Sabtu, 22 Desember 2012

KELOMPOK TANI



 
PERAN LINGKUNGAN KELOMPOK TANI
DALAM MENINGKATKAN EFEKTIVITAS KELOMPOK TANI


Oleh  :   Sailan, SP, M.Si
KJF BP4K Kabupaten Bengkulu Tengah
dan Pembina P4S Cita Laksana Mandiri


Masyarakat pada umumnya, khususnya para petani selalu menginginkan agar mereka dapat berusaha tani lebih baik dan keluar dari keterpurukan serta belenggu kemiskinan.     

Penerapan inovasi yang sangat cepat, mengharuskan kelembagaan kelompok tani dan gapoktan untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan usahanya.

Perubahan tersebut telah menggeser fungsi-fungsi manajeman sumberdaya manusia dari fungsi spesialisasi yang berdiri sendiri menjadi fungsi yang terintegrasi dengan seluruh fungsi lainnya dengan perencanaan strategik organisasi untuk bersama-sama mencapai sasaran yang sudah ditetapkan.

Dengan adanya perubahan yang sangat cepat dan kompleks dalam lingkungan bisnis seperti demografi, geografis, jenis bisnis, lingkungan hidup, serta dampak globalisasi, mengharuskan kelompok tani agar beradaptasi secara cepat dan bersikap proaktif dengan lingkungan yang turbulens. 

Beberapa  faktor Lingkungan Kelompok Tani yang diduga berhubungan nyata dengan efektivitas kelompok tani adalah:

(1)   Hubungan kontak tani dengan anggota
(2) Disiplin kelompok tani
(3) Fasilitas kelompok tani
(4) Sarana komunikasi dan ketersediaan informasi
(5) Intensitas penyuluhan
(6) Aksesibilitas inovasi
(7) Legitimasi masyarakat, dan
(8) Kekosmopolitan. 


Hubungan kontak tani dengan anggota kelompok tani

Hubungan antara kontak tani dengan anggotanya merupakan hubungan yang saling ketergantungan untuk memajukan kegiatan dan tujuan kelompok tani. 

Kontak tani akan memperhatikan kebutuhan anggotanya, memberikan pemecahan masalah yang dialami oleh anggota, menyampaikan informasi yang diperoleh kepada anggota, dan mengatur tugas dan fungsi anggota kelompok tani dalam hamparan usaha tani. 

Sebaliknya anggota kelompok tani akan memberikan masukan kepada kontak tani tentang masalah – masalah yang dihadapinya, menyampaikan rencana usaha taninya, dan mematuhi tugas dan fungsi yang diberikan kepadanya.

Upaya yang dapat ditempuh dalam menjalin hubungan sumberdaya kontak tani dan anggotanya agar kelompok tani menjadi solid, kompak, dan dinamis adalah : 

a.   Hubungan baik
b.   Menindaklanjuti kepuasan anggota
c.   Interaksi antara sumberdaya kontak tani dengan anggota tidak kaku
d.   Kematangan anggota
e.   Tekat yang kuat dalam mencapai tujuan       

Disiplin Kelompok Tani

Aturan yang telah disepakati oleh anggota kelompok dalam menjalankan kegiatan kelompok tani, berikut sangsi (punishment) dan pemberian hadiah (rewarding) yang akan diberikan kepada anggota yang membangkang dan taat kepada aturan kelompok tani. 

Kedisiplinan kelompok tani erat hubungannya dengan kerajinan anggota dalam mengikuti kegiatan kelompok, kegiatan kemasyarakatan, dan pertemuan dengan petugas khususnya Penyuluh (Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan).

Kedisiplinan kelompok mencakup kedisiplinan kontak tani dan pengurus kelompok tani serta anggotanya, kedisiplinan petugas penyuluhan, kedisiplinan administrasi, dan kedisiplinan pelayanan kelompok terhadap anggota kelompok tani.

Fasilitas Kelompok Tani

Fasilitas yang ada di kelompok tani dapat mengindikasikan maju atau tidaknya sebuah kelompok tani. 

Dalam penyampaian penyuluhan pertanian, alat dan bahan sangat membantu dalam penyampaian materi penyuluhan pertanian agar apa yang disuluhkan dalam bentuk yang sejauh mungkin dapat diterima oleh panca indera sasaran penyuluhan. 

Alat dan bahan penyuluhan pertanian yang ada di kelompok tani berhubungan erat dengan implementasi kegiatan yang akan dilakukan oleh petani di lahan usaha taninya.

Alat dan bahan penyuluhan pertanian yang lengkap dan memenuhi standar sesuai anjuran akan memberikan hasil yang lebih baik dalam penerimaan adopsi inovasi bagi petani. 

Para petani akan memanfaatkan fasiltas yang ada di kelompoknya masing – masing untuk penguatan modal dan sarana produksi yang mereka butuhkan.

Sarana Komunikasi dan Ketersediaan informasi

Sarana komunikasi yang dipakai dan digunakan dalam mencari informasi dan penyampaian umpan balik yang digunakan, seperti  :  radio, televisi, hand phone, telepon umum, warnet, handy walky dan sebagainya. 

Ketersediaan informasi tentang teknologi usahatani yang dibutuhkan anggota kelompok tani di BP3K/BP4K, Perpustakaan Desa ataupun di kelompok tani dalam bentuk : brosur, leaflet, majalah pertanian (Ekstensia dan Trubus), Koran Sinar Tani, Jurnal Penelitian, Warta Penelitian, buku tentang usahatani, dan lain – lainnya, akan memudahkan anggota kelompok tani dalam mencari informasi pertanian.

Intensitas Penyuluhan

Intensitas penyuluhan merupakan jumlah pertemuan yang dilaksanakan di kelompok tani oleh :  kontak tani; Penyuluh Pertanian, Perikanan dan Kehutanan; Penyuluh Urusan Program, Koordinator BP3K, Petugas Pertanian Kecamatan (PPK), Dinas dan Instansi, perangkat desa maupun pejabat pemerintahan. 

Tempat penyuluhan pertanian dapat dilakukan, antara lain di rumah anggota kelompok, Balai Desa, dan pondok pertemuan di lahan usaha tani.

Aksesibilitas Inovasi

Aksesibilitas inovasi merupakan penerapan informasi yang telah atau yang diperoleh anggota kelompok tani melalui penyampaian penyuluhan ataupun melalui media yang tersedia di kelompok tani, Perpustakaan Desa, Perpustakaan BPP, dan melalui sumber – sumber lainnya. 

Penerapan inovasi dapat berupa : penggunaan benih unggul, pengendalian hama terpadu, pemupukan, tandur jajar dan sistem Legowo.

Legitimasi Masyarakat

Legitimasi masyarakat dapat diukur dengan sejauh mana peran dan andil kelompok tani dalam kegiatan kemasyarakatan seperti :  gotong – royong desa, perbaikan saluran irigasi, kehadiran kelompok dalam rapat desa, dan kegiatan kemasyarakatan lainnya.

Keikutsertaan kelompok tani dalam kegiatan kemasyarakatan diharapkan tidak hanya karena adanya perintah dari aparat desa saja, tetapi juga  proaktif kelompok tani.  

Kekosmopolitan

Langkah yang dilakukan oleh anggota kelompok tani dalam upaya mencari informasi inovasi yang sesuai dengan kebutuhan usaha taninya yang diukur melalui kecepatan dalam mencari informasi inovasi dan luasnya pergaulan anggota kelompok tani.  

Informasi inovasi pertanian tidak hanya bersumber dari kontak tani dan Penyuluh saja, akan tetapi juga dapat berasal dari :  Balai Penelitian, Perguruan Tinggi, pihak swasta, Dinas dan atau Instansi Pemerintah ataupun dari para stake holder dan bahkan dapat berasal dari pengalaman petani lainnya. 

Adopsi inovasi pertanian dapat saja langsung diakses oleh anggota kelompok tani, tidak harus melalui Penyuluh saja serta kontak tani, namun walaupun demikian inovasi yang diterima harus mempertimbangkan hal – hal : sesuai kebutuhan, tidak berdampak negative terhadap lingkungan, sesuai dengan agroklimat setempat, dan telah teruji serta dapat dipertanggungjawabkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar